Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Koleksi Artefak Situs Beteng Kedawung

Beberapa benda yang ditemukan disekitar situs Beteng: Pada tahun 1956, Sukadi menemukan tombak pusaka di lokasi tersebut Pada tahun 1958, juru kunci Mat Salam mendapatkan keris Luk Sembilan setelah acara 1 Suro. Pada tanggal 26 Mei 1961, batu lumpang ditemukan di areal sawah Bumisara, yang berjarak hanya ratusan meter dari situs Beteng Pada 5 Juli 1991, batu lumpang dengan ukuran yang hampir sama dengan sebelumnya, cukup besar, ditemukan di sekitar Beteng. Pada Agustus 1991, 2 batu pipisan dan 1 batu gandik ditemukan di pekarangan Sarino, berjarak sekitar 200-an meter dari Beteng. Selain itu, ditemukan pula pecahan keramik Cina, kendi kuno, kepeng Cina, dan lain-lainnya.

Profil Juru Kunci

Bapak Ngadul Gani, merupakan juru kunci yang saat ini mengurus Situs Beteng.  Beliau menggantikan ayahnya Mat Salam yang dulunya juga menjadi juru kunci di Situs Beteng. Ayah beliaulah yang pertama kali menemukan situs beteng pada tahun 1918. Mat Salam datang ke Semboro dari Blitar pada tahun 1918. Tanah lapang yang ia temukan sebagai areal situs memilik luas sekitar 5 ha. Di antaranya terdapat gundukan tanah dan puing-puing tembok dari batu bata kuno. Tingginya mencapai 2,5 meter dan tebal 90 cm. Puing- puing itu seperti bekas bangunan dengan kamar-kamarnya. Diduga puing-puing itu adalah sisa bangunan benteng pada masa lalu. Bapak Ngadul Gani menjadi juru kunci sejak tahun 1974 hingga saat ini, sedangkan ayahnya Mat Salam menjadi juru kunci sejak tahun 1957. Bapak Ngadul Gani, kegiatan kesehariannya sebagai juru kunci adalah mengurus areal Situs Beteng, mulai dari menyapu halaman, menata batu-batu bata yang tercecer di sekitaran situs, dan juga menjaga kelestarian situs. ...

Sejarah Situs Beteng

Situs Beteng merupakan peninggalan era Klasik yang berada di dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro. Keberadaan situs ini sudah rata dengan tanah akibat aksi serupa oleh massa KAMI/KAPPI pada sekitar tahun 1967-1968. Arca-arca dihancurkan dan dibuang ke Kali Menampu, sebagian artefak berupa fragmen keramik, terakotta, ghuci, batu pipisan (penggilesan), alu, batu bata besar sebagian kecil berhasil diselamatkan dan disimpan di sana (Jupriono, dkk., 2018: 194). Penemu pertamanya adalah Mat Salam, yang datang ke Semboro dari Blitar pada tahun 1918. Suatu hari, ia menemukan sebuah tanah lapang dengan luas sekitar 5 ha. Di antaranya terdapat gundukan tanah dan puing-puing tembok dari batu bata kuno. Tingginya mencapai 2,5 meter dan tebal 90 cm. Puing- puing itu seperti bekas bangunan dengan kamar-kamarnya. Diduga puing-puing itu adalah sisa bangunan benteng pada masa lalu. Sejak itulah kawasan tersebut dinamakan dengan Beteng (Widodo, 2014: 53). Ketika ditemukan oleh Mat Sala...