Langsung ke konten utama

Sejarah Situs Beteng


Situs Beteng merupakan peninggalan era Klasik yang berada di dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro. Keberadaan situs ini sudah rata dengan tanah akibat aksi serupa oleh massa KAMI/KAPPI pada sekitar tahun 1967-1968. Arca-arca dihancurkan dan dibuang ke Kali Menampu, sebagian artefak berupa fragmen keramik, terakotta, ghuci, batu pipisan (penggilesan), alu, batu bata besar sebagian kecil berhasil diselamatkan dan disimpan di sana (Jupriono, dkk., 2018: 194).

Penemu pertamanya adalah Mat Salam, yang datang ke Semboro dari Blitar pada tahun 1918. Suatu hari, ia menemukan sebuah tanah lapang dengan luas sekitar 5 ha. Di antaranya terdapat gundukan tanah dan puing-puing tembok dari batu bata kuno. Tingginya mencapai 2,5 meter dan tebal 90 cm. Puing- puing itu seperti bekas bangunan dengan kamar-kamarnya. Diduga puing-puing itu adalah sisa bangunan benteng pada masa lalu. Sejak itulah kawasan tersebut dinamakan dengan Beteng (Widodo, 2014: 53).

Ketika ditemukan oleh Mat Salam, kondisi tembok situs masih berdiri sekitar 4 meter. Banyaknya temuan senjata perang dan beberapa buah sumur serta gigi kuda, mencerminkan bahwa bangunan ini merupakan bekas benteng pertahanan. Apalagi jika mengacu kepada cerita tutur yang berkembang pada masyarakat sekitar. Namun peninggalan bekas benteng ini masih sulit ditelusuri kaitannya dengan masa lalu, karena tidak adanya petunjuk yang bisa memberikan jawaban. Disebut Situs Beteng karena bangunan yang disebutkan memanjang seperti tembok besar hingga ratusan meter dengan beberapa ruang itu menurut juru kunci Ngadul Gani adalah sisa bangunan benteng peninggalan Majapahit pada masa akhir.

Keterangan ini cukup valid karena didukung oleh beberapa artefak dan senjata yang ditemukan seperti tombak, pedang, keris, batu gilingan dan artefak serta antefik lain untuk pembuatan ramuan jamu dan pengobatan serta beberapa buah sumur (sekitar 9 buah) yang terbuat dari batu bata besar. Dari fakta penemuan tersebut menunjukkan bahwa Situs Beteng adalah bekas bangunan benteng. Persoalannya adalah peninggalan cagar budaya itu dididirikan pada masa Majapahit era pemerintahan atau pada masa Blambangan masih belum diketahui kejelasannya (Jupriono, dkk., 2018: 195).


Pada tahun 1939, sebuah sumur kuno ditemukan Harjo Suwondo. Penemuan itu merupakan cikal bakal digelarnya ritual 1 Suro di tempat tersebut dengan diadakan selamatan dengan menggelar wayang kulit purwa. Pada tahun 1957, Situs Beteng dipugar atas persetujuan kepala desa Semboro dan Wedana Tanggul. Pemugaran disesuaikan dengan bangunan asli yang masih bisa dirunut bentuknya. Pemugaran rampung pada 21 Agustus 1958, lalu diresmikan R. Oetama, pejabat bupati Djember, pada 1959. Sejak itu, situs Beteng menjadi tempat tujuan wisata yang sangat ramai (Widodo, 2014: 54).

Bahkan, yang datang ke sana, banyak yang dari luar Djember. Namun, pada saat huru-hara 1965, terjadi malapetaka di tempat tersebut. Segalanya berubah. Tepatnya pada 1968, segerombol pemuda dari sebuah ormas kepemudaaan mengamuk. Situs Beteng dihancurkan. Tembok dirobohkan, pohon beringin besar ditumbangkan. Banyak batu bata yang diluluhlantakkan, begitu pula tinggalan purbakala lainnya, seperi patung Syiwa yang dihanyutkan ke Kali Menampu. Bahkan, patung gerbang yang berada di depan gapura, berbentuk Kumbakarna, diratakan dengan tanah dan hanya tertinggal hidungnya saja. Pasca tragedi itu, Situs Beteng menjadi tanggung jawab Batalyon 515 Tanggul, yang bermarkas di Loji Semboro, sebelah selatan PG. Semboro. Acara rutin 1 Suro berhenti selama tiga tahun, mulai 1968-1971 (Widodo, 2014: 55).

Untuk menjawab ini perlu penelitian komprehensif dengan menyertakan bukti-bukti pendukung. Karena belum ada sumber rujukan yang mengarah kepada identifikasi Situs Beteng sebagai peninggalan Majapahit, Lamajang dan Tigang atau Blambangan. Ketiga kekuasaan itu sangat memungkinkan menjadi salah salu pemegang otoritas pemerintahan pada masa lalu. Akan tetapi jika menelisik hubungan antara Situs Beteng Semboro, sangat terkail erat dengan Situs Penggungan di Klatakan Tanggul dan Situs Kutho Kedawung di Paleran, Umbulsari yang mencirikan bangunan khas Majapahit.Hal ini dilihat dari bentuk dan ukuran batu bata besar, antefik serta artefak temuan dengan tingkat kemiripan yang sangat (Jupriono, dkk., 2018: 195).

Berdasarkan dari sumber keterangan dari Ngadul Gani (juru kunci), Situs Beteng adalah peninggalan raja Majapahit, Brawijaya V yang kala itu berperang dengan anaknya yaitu Raden Patah pendiri Kerajaan Demak. Namun keterangan dari Ngadul Gani rupanya mirip dengan keterangan babad (serat) seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda dan Serat Dharmogandul. Sehingga sulit untuk memisahkan mana yang fakta sejarah dan mana yang mitos. Akan tetapi cerita tutur inipun tidak bisa diabaikan karena jika dikaitkan dengan temuan artefak dan antefik sangatlah cocok dan berkaitan.

Namun nama Brawijaya dianggap kontroversi karena bersumber dari cerita babad, meskipun secara umum nama-nama raja Majapahit disebut dengan Brawijaya setelah Raden Wijaya. Sebutan ini juga rupanya pengaruh dari Tome Pires ketika menyebut Bhattara Vigiaya (Bhra Wijaya) pada masa akhir Majapahit. Kalau tersebut bangunan betul peninggalan raja Brawijaya V yang kala menghindari kejaran tentara Demak berdasarkan cerita babad, memang membutuhkan penelitian lagi. Karena Babad Tanah Jawi tidak menyertakan data benteng dan bukti-bukti, khususnya lokasi perang tersebut. Mungkinkah juga pengejaran ini akhirnya sampai ke wilayah Jember sebagaimana disebutkan.

Dalam babad bahwa pelarian Brawijaya menuju Blambangan sebelum ke Bali. Berdasarkan Prasasti Petak, keruntuhan Majapahit akibat serangan Girindrawardhana dyah Ranawijaya. Tetapi oleh babad disebutkan karena serangan Raden Patah (Demak) yaitu pada tahun 1478 Masehi. Maka BrawijayaV yang dimaksud bisa diidentikkan dengan Bhre Kertabhumi. Bahkan perang antara Demak dan Majapahit disebut dengan perang Sudarma Wisuta, yaitu perang antara bapak melawan anak. Selama ini penyebutan nama Kertabhumi berdasarkan pada sengkalan Sirna llang Kertaning Bhumi, yang pemerintahannya berakhir tahun 1400 Saka atau tahun 1478 M.

Disebutkan dalam beberapa catatan bahwa nama Brawijaya adalah sebutan untuk raja-raja Majapahit sepeninggal Raden Wijaya, yang dimulai dari Raja Jayanegara. Dalam Serat Kandanama Brawijaya disebut dengan Angkawijaya atau Kertawijaya (1447 - 1451). Berdasarkan urutan raja Majapahit setelah Raden Wijaya, Kertawijaya menempati urutan ke 5. Dengan demikian bisa dikatakan Kertawijaya sebagai Brawijaya V. Jadi penafsiran tentang Brawijaya yang dihubungkan dengan Situs Beteng ini masih mengandung polemik yang belum terpecahkan hingga sekarang (Jupriono, dkk., 2018: 196).

Bangunan benteng juga berhubungan langsung dengan Situs Penggungan atau Tumenggungan yang ada di desa Klatakan Tanggul. Keterangan ini dikuatkan oleh para sesepuh di dusun Beteng, Sidomekar dan di dusun Penggungan, Klatakan. Menurut cerita tutur, Situs Penggungan (Tumenggungan) ini pada masa lalu merupakan tempat kediaman panglima perang yang bergelar tumenggung.  Memang dalam struktur pemerintahan Majapahit ada jabatan yang disebut dengan Panca ring Wilwatikta, yaitu Rakryan Mahapatih, Demung, Kanuruhan, Rangga dan Tumenggung (Mulyana, 1979:163). 


Widodo, D.I. 2014. Djember Tempo Doeloe. Surabaya: PT Jepe Press Media Utama.

Jupriono, dkk. 2018. Sekilas Wakil Rakyat dan Perkembangan Kabupaten Jember (Prasejarah s.d. 1970-an). Jember: Sekretariat DPRD Jember. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Juru Kunci

Bapak Ngadul Gani, merupakan juru kunci yang saat ini mengurus Situs Beteng.  Beliau menggantikan ayahnya Mat Salam yang dulunya juga menjadi juru kunci di Situs Beteng. Ayah beliaulah yang pertama kali menemukan situs beteng pada tahun 1918. Mat Salam datang ke Semboro dari Blitar pada tahun 1918. Tanah lapang yang ia temukan sebagai areal situs memilik luas sekitar 5 ha. Di antaranya terdapat gundukan tanah dan puing-puing tembok dari batu bata kuno. Tingginya mencapai 2,5 meter dan tebal 90 cm. Puing- puing itu seperti bekas bangunan dengan kamar-kamarnya. Diduga puing-puing itu adalah sisa bangunan benteng pada masa lalu. Bapak Ngadul Gani menjadi juru kunci sejak tahun 1974 hingga saat ini, sedangkan ayahnya Mat Salam menjadi juru kunci sejak tahun 1957. Bapak Ngadul Gani, kegiatan kesehariannya sebagai juru kunci adalah mengurus areal Situs Beteng, mulai dari menyapu halaman, menata batu-batu bata yang tercecer di sekitaran situs, dan juga menjaga kelestarian situs. ...

Koleksi Artefak Situs Beteng Kedawung

Beberapa benda yang ditemukan disekitar situs Beteng: Pada tahun 1956, Sukadi menemukan tombak pusaka di lokasi tersebut Pada tahun 1958, juru kunci Mat Salam mendapatkan keris Luk Sembilan setelah acara 1 Suro. Pada tanggal 26 Mei 1961, batu lumpang ditemukan di areal sawah Bumisara, yang berjarak hanya ratusan meter dari situs Beteng Pada 5 Juli 1991, batu lumpang dengan ukuran yang hampir sama dengan sebelumnya, cukup besar, ditemukan di sekitar Beteng. Pada Agustus 1991, 2 batu pipisan dan 1 batu gandik ditemukan di pekarangan Sarino, berjarak sekitar 200-an meter dari Beteng. Selain itu, ditemukan pula pecahan keramik Cina, kendi kuno, kepeng Cina, dan lain-lainnya.