Langsung ke konten utama

Profil Juru Kunci



Bapak Ngadul Gani, merupakan juru kunci yang saat ini mengurus Situs Beteng. Beliau menggantikan ayahnya Mat Salam yang dulunya juga menjadi juru kunci di Situs Beteng. Ayah beliaulah yang pertama kali menemukan situs beteng pada tahun 1918. Mat Salam datang ke Semboro dari Blitar pada tahun 1918. Tanah lapang yang ia temukan sebagai areal situs memilik luas sekitar 5 ha. Di antaranya terdapat gundukan tanah dan puing-puing tembok dari batu bata kuno. Tingginya mencapai 2,5 meter dan tebal 90 cm. Puing- puing itu seperti bekas bangunan dengan kamar-kamarnya. Diduga puing-puing itu adalah sisa bangunan benteng pada masa lalu.

Bapak Ngadul Gani menjadi juru kunci sejak tahun 1974 hingga saat ini, sedangkan ayahnya Mat Salam menjadi juru kunci sejak tahun 1957. Bapak Ngadul Gani, kegiatan kesehariannya sebagai juru kunci adalah mengurus areal Situs Beteng, mulai dari menyapu halaman, menata batu-batu bata yang tercecer di sekitaran situs, dan juga menjaga kelestarian situs. Beliau disela kegiatan sebagai juru kunci juga melakukan aktivitas perekonomian lain yakni bertani. Setiap harinya beliau menyapa pengunjung dengan ramah, dan memberikan informasi-informasi terkait sejarah Situs Beteng.
Situs beteng yang memang tidak membebankan tiket masuk pada pengunjung, maka lebih bertopang kepada dana kontribusi yang diberikan masyarakat secara sukarela dan dana operasional dari Dinas Pariwisata. Sehingga kadang pengunjung memberikan dana kontribusi sukarela ini langsung kepada bapak Ngadul Gani.

 Foto: koleksi artefak yang tersimpan di rumah Bpk. Ngadul Gani



Bapak Ngadul Gani memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap keberlangsungan situs. Beliau bahkan membangun sebuah ruangan di areal rumahnya khusus untuk menampung benda-benda artefak yang ditemukan di sekitar Situs Beteng. Beliau mengumpulkan beberapa artefak tersebut dalam suatu rungan khusus sebagai upaya menjaga keamanan. Beliau menuturkan bahwa seringkali benda-benda yang ditemukan hilang dicuri oleh orang tidak bertanggung jawab, sehingga dengan adanya ruangan khusus ini meminimalisir pencurian terhadap benda-benda artefak.

Kini di usianya yang lebih dari 70 tahun, bapak Ngadul Gani menuturkan bahwa beliau masih belum menemukan penerusnya nanti sebagai juru kunci. Beliau mengatakan bahwa anak-anak beliau enggan untuk meneruskan profesinya karena mereka tinggal di kota yang berbeda saat ini. Dan beliau berharap suatu saat nanti ada orang yang mampu mengemban profesinya saat ini, dan menjadi peninggalan leluhur ini agar tetap lestari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Situs Beteng

Situs Beteng merupakan peninggalan era Klasik yang berada di dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro. Keberadaan situs ini sudah rata dengan tanah akibat aksi serupa oleh massa KAMI/KAPPI pada sekitar tahun 1967-1968. Arca-arca dihancurkan dan dibuang ke Kali Menampu, sebagian artefak berupa fragmen keramik, terakotta, ghuci, batu pipisan (penggilesan), alu, batu bata besar sebagian kecil berhasil diselamatkan dan disimpan di sana (Jupriono, dkk., 2018: 194). Penemu pertamanya adalah Mat Salam, yang datang ke Semboro dari Blitar pada tahun 1918. Suatu hari, ia menemukan sebuah tanah lapang dengan luas sekitar 5 ha. Di antaranya terdapat gundukan tanah dan puing-puing tembok dari batu bata kuno. Tingginya mencapai 2,5 meter dan tebal 90 cm. Puing- puing itu seperti bekas bangunan dengan kamar-kamarnya. Diduga puing-puing itu adalah sisa bangunan benteng pada masa lalu. Sejak itulah kawasan tersebut dinamakan dengan Beteng (Widodo, 2014: 53). Ketika ditemukan oleh Mat Sala...

Koleksi Artefak Situs Beteng Kedawung

Beberapa benda yang ditemukan disekitar situs Beteng: Pada tahun 1956, Sukadi menemukan tombak pusaka di lokasi tersebut Pada tahun 1958, juru kunci Mat Salam mendapatkan keris Luk Sembilan setelah acara 1 Suro. Pada tanggal 26 Mei 1961, batu lumpang ditemukan di areal sawah Bumisara, yang berjarak hanya ratusan meter dari situs Beteng Pada 5 Juli 1991, batu lumpang dengan ukuran yang hampir sama dengan sebelumnya, cukup besar, ditemukan di sekitar Beteng. Pada Agustus 1991, 2 batu pipisan dan 1 batu gandik ditemukan di pekarangan Sarino, berjarak sekitar 200-an meter dari Beteng. Selain itu, ditemukan pula pecahan keramik Cina, kendi kuno, kepeng Cina, dan lain-lainnya.